Wot Batu Bandung, Bukan Sekadar Taman dan Instalasi Batu

Reporter:

Anwar Siswadi (Kontributor)

Editor:

Rita Nariswari

Kamis, 20 September 2018 19:39 WIB

Konfigurasi batu diatas kolam membentuk kata altitud karya perupa Sunaryo di monumen Wot Batu, Bandung, 4 September 2015. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung – Karya seni pada ruang terbuka seperti di Wot Batu Bandung menjadi daya tarik khusus wisatawan. Perupa senior Sunaryo membangun situs batu besar (megalitikum) dengan sentuhan seni itu di lahan seluas 2.000 meter persegi. Ada Batu Merenung dan Batu Air bagi pengunjung yang ingin datang untuk bersantai di tempat itu.

Wot dari bahasa Jawa berarti jembatan. Pada tempat itu, maknanya lebih filosofis sebagai jembatan jiwa. Sunaryo membangunnya pada 2015 dan mulai dibuka untuk umum sejak 2016. Lokasinya berada di Jalan Bukit Pakar Timur nomor 98 Bandung.

Ditata dengan tanaman dan rerumputan seperti taman di sekelilingnya, Sunaryo mengatakan tempat barunya itu bukan taman. Isinya pun bukan sekadar instalasi seni dari material batu. “Kalau dibilang instalasi terlalu mengecilkan arti, dibilang taman terlalu biasa juga,” ujar lulusan Seni Rupa ITB 1969 itu.

Bagi Sunaryo, Wot Batu merupakan monumen yang mengabadikan nilai. Batu jadi pilihan karena dinilainya juga bersifat abadi meskipun materi atau fisiknya bisa hilang atau fana.

Christine Toelle, Program Associate di Wot Batu mengatakan, situs itu merupakan sebuah konfigurasi dalam kompleks yang terdiri dari 135 + 1 buah batu dan tersusun dalam satu gubahan. Karya batunya bersifat statis dan disiapkan sebagai karya non-temporer.

Agar lebih jelas, Wot Batu memberikan fasilitas panduan pameran setiap satu jam sekali bagi para pengunjung yang datang. “Panduan ini dimaksudkan agar pengunjung dapat berbincang langsung dengan para pemandu mengenai konsep, latar, atau berdiskusi seputar karya batu,” katanya, Kamis, 20 September 2018.

Selain pemandu, Wot Batu juga memiliki fasilitas asisten digital berupa aplikasi bernama Digital Assistant Wot Batu yang dapat diunggah di ponsel pintar melalui PlayStore mau pun App Store. “Aplikasi ini membantu pengunjung untuk mengeksplor Wot Batu secara mandiri,” ujarnya.

Batu spiritual Wot Batu di Bandung karya seniman Sunaryo. Tempo/Francisca Christy Rosana

Selain ditata asri dan alami, Wot Batu punya alur khusus bagi pengunjung dan bermakna. Lorong selebar satu meter setelah pintu masuk misalnya, merupakan awal perjalanan pengunjung. Lorong seperti gang itu simbol jalur asal muasal manusia, perjalanannya, hingga berakhir di dunia fana. Petunjuknya berupa tiang batu kehitaman berbentuk silinder setinggi hampir dua meter.

Tiang batu perlambang lingga atau alat kelamin lelaki yang tertancap di kolam air sebagai yoni atau alat reproduksi wanita, merupakan simbol asal muasal manusia dari Adam dan Hawa. Kemudian di tengah jalur berjalan itu ke arah timur, ada sebuah batu kecokelatan yang ditata dan dibentuk seperti sebuah perahu sebagai simbol perjalanan hidup. Beberapa meter kemudian sampailah ke gerbang atau pintu kematian.

Pengunjung ke arena karya seni ini bisa datang perorangan, kelompok kecil, bersama keluarga, atau rombongan besar. Tarif masuk umum Rp 50 ribu per orang, grup lebih dari 15 pengunjung Rp 30 ribu per orang, begitu pula untuk kalangan pelajar, akademisi, dan mahasiswa, serta anak-anak. Khusus orang lanjut usia 70 tahun lebih dibolehkan gratis.

ANWAR SISWADI