Event Details

  • Date:

Sabtu, 21 Oktober 2017
16.30 -21.00 WIB

Wot Batu |  Jl. Bukit Pakar Timur No. 98 #1, Ciburial, Bandung

Pada hari Sabtu, 21 Oktober 2017, Kedutaan Besar Perancis akan memberikan sebuah tanda kehormatan kepada Sunaryo, sebagai:

Chevalier dans l’Orde des Arts et des Lettres
Knight in the Order of Arts and Letters

Penghargaan ini diberikan atas pencapaian Sunaryo dalam dunia seni rupa di Indonesia, terutama bagi kontribusi beliau dalam perkembangan seni rupa melalui berbagai kegiatan yang merupakan program dari ruang-ruang alternatif seni yang telah didirikan oleh beliau.
Acara ini diinisiasikan oleh Kedutaan Besar Republik Perancis, dan difasilitasi oleh Institut Francais Indonesia bersama dengan tim dari Wot Batu, Bale Project dan Selasar Sunaryo Art Space. Penghargaan akan diberikan langsung oleh Duta Besar dari Kedutaan Besar Republik Perancis , Jean Charles Berthonnet kepada Sunaryo, dan akan dilanjutkan dengan acara makan malam bersama para kerabat terdekat, akademisi, serta para pengamat medan sosial seni yang telah turut mendukung Sunaryo selama proses kekaryaannya. Beberapa kerabat yang akan hadir di antaranya adalah Bambang Sugiharto, A.D. Pirous, Rita Widagdo serta Rektor ITB, Bapak Kadarsah Suryadi.

Dalam rangkaian penghargaan ini, Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Jean-Charles Berthonnet turut mengatakan:
“Berkat komitmen dan kemurahan hati Sunaryo, kini Bandung merupakan salah satu tempat utama seni kontemporer di Indonesia dan beliau adalah pelopor sejati dari seni tersebut.

Berdasarkan semangat perintis dan humanis inilah, atas rekomendasi Kedutaan Besar Perancis di Indonesia, Menteri Kebudayaan Fleur Pellerin memilih untuk memberi penghargaan / kehormatan kepada beliau. Juga atas 22 tahun kerja sama dengan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia untuk menyelenggarakan pameran dan seniman yang melakukan residensi, baik pemula atau yang sudah berpengalaman seperti Tatiana Trouvé, Jean-Michel Othoniel, Kubilai Khan, Françoise Huguier atau EnoraLalet yang datang tahun ini. Hal luar biasa yang diberikan Sunaryo ini telah memungkinkan puluhan seniman Indonesia dan internasional untuk berkembang, memperkaya diri dan mengembangkan karya mereka.”

Sunaryo merupakan seorang seniman yang lahir di Banyumas, serta menempuh pendidikannya di Fakultas Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 1995, beliau mendirikan Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) di Bandung, dan SSAS sendiri kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1998. Bentuknya merupakan sebuah badan non-profit, institusi edukasional serta ruang alternatif untuk mewadahi berbagai kegiatan kreatif, khususnya dalam seni rupa kontemporer. Berbagai ekspresi seni hadir di SSAS dan menjadikan SSAS sebagai jawaban bagi permasalahan-permasalahan seni rupa kontemporer, termasuk juga seni pertunjukan, tari, teater, musik, film, fotografi, arsitektur serta sastra.

Pada tahun 2015, Sunaryo mendirikan Wot Batu, sebuah karya seni yang mengekspresikan perjalanan spiritual beliau selama berkesenian. Terdiri dari instalasi batu sebanyak 136 buah, dikomposisikan dalam lahan seluas 2000 m2, sebagai medium untuk menjembatani kehidupan manusia secara general dengan sisi spiritual mereka. Dalam artian lain, Wot Batu sesungguhnya menyajikan jejak-jejak manusia kini untuk pengembangan masa depan.

Di tahun 2015 juga, Sunaryo mendirikan sebuah unit bisnis independen khusus untuk mendukung berjalannya SSAS dari segi finansial, bernama Bale Project. Bale Project berperan untuk mengatur strategi bisnis seni rupa, serta mengantarkan seniman Indonesia agar dapat diakui serta berkontribusisecara khusus pada pasar seni rupa global.

Selain mendirikan lembaga-lembaga kebudayaan yang mampu memajukan dan membuka wawasan mengenai medan sosial seni rupa kontemporer Indonesia, hingga kini Sunaryo juga masih berkarya sebagai seorang perupa dan terus menjadi konsultan bagi perkembangan seni rupa secara intens.