Alternatif Liburan di Bandung, Merenung di Keheningan Wot Batu

Reporter:

Anwar Siswadi (Kontributor)

Editor:

Tulus Wijanarko

Jumat, 21 September 2018 13:45 WIB

 Batu spiritual Wot Batu di Bandung karya seniman Sunaryo. Tempo/Francisca Christy RosanaBatu spiritual Wot Batu di Bandung karya seniman Sunaryo. Tempo/Francisca Christy Rosana

 

TEMPO.COJakarta – Bebatuan besar dan kecil di Wot Batu Bandung tidak hanya berasal dari Indonesia. Beberapa diantaranya juga datang dari India, Italia, dan Arab Saudi. Sebagian batu itu harus menempuh perjalanan yang tidak selalu mulus.

Perupa Sunaryo yang mendirikan Wot Batu mengatakan, mimpinya semula ingin menghadirkan bebatuan lempeng bumi dari India yang meandungndesak masuk ke Indonesia. “Maunya diwakili batu dari Aceh sampai Indonesia Timur,” katanya Kamis, 20 September 2018. Namun karena terpepet waktu pendirian tempat, ia akhirnya fokus pada batu asal daerah di Jawa Barat.

Wot Batu yang dibangun pada 2015 dan dibuka untuk umum sejak 2016, menjadi monumen dengan aneka batu dan ukurannya. Batu yang menonjol berukuran besar hingga seluas kasur dan ada yang menjulang. Beratnya mencapai ukuran ton.

Sunaryo mengatakan, batuan besar itu ia peroleh dari daerah pegunungan di Cianjur, Sukabumi, dan Padalarang, juga Tasikmalaya di Jawa Barat dekat Gunung Galunggung. Ada pula batu besar dari Jawa Timur dan Bali. Sementara batuan pemberian temannya ada yang berasal dari India serta Italia yang merupakan fosil tanaman. “Itu digantung pada tembok,” katanya.

Sebongkah batu sekepalan tangan berwarna hitam, dipungut Sunaryo dari depan Gua Hira di Arab Saudi ketika ibadah ke Tanah Suci. Batu itu ditempatkan di musala.

Proses mendatangkan batuan besar dari berbagai daerah kadang waktunya tidak sesuai pesanan. Penjual batu dari Padalarang juga Jawa Timur misalnya, waktunya molor hingga berminggu-minggu karena proses pengambilan batunya sulit.Monumen Wot Batu Sunaryo

Bahkan di tengah jalan, hambatan seperti mogok dan kendaraan rusak terjadi.
Sampai di Bandung pun, masih ada kendala teknis untuk menurunkan batu. Kadang beberapa besi penopang patah, hingga terjadi adu mulut antar pekerja soal cara menurunkan batu besar. “Setelah tiga hari baru bisa turun,” kata Sunaryo.

Cara lain ada yang menggunakan alat berat selain manual, pun pemasangannya. Sekitar 50 orang pekerja terlibat dalam pendirian Wot Batu. Pengunjung bisa menyaksikan upaya proses pembangunannya di rekaman video dokumenter di ruang Bale Batu.

Christine Toelle, Program Associate di Wot Batu mengatakan, area yang direkomendasikan bagi pengunjung adalah karya Batu Merenung yang dikhususkan sebagai tempat kontemplasi. “Juga area Batu Air yang menyajikan pemandangan alam sebagai bahan refleksi,” katanya Kamis, 20 September 2018. Selain itu, pengunjung bisa mengamati suasana tempat di Jalan Bukit Pakar Timur 98 Bandung itu dengan santai dari ruangan Bale Batu.

ANWAR SISWADI (Bandung)